Tuesday, April 7, 2009

Kisah budak lelaki dan pohon epal

Kisah ini D ambil dari blog sangjolie. Bagus untuk dijadikan teladan. =========================================== Pada suatu ketika, terdapat sebatang pohon epal besar dan seorang kanak lelaki yang gembira bermain-main di bawah pohon epal itu setiap hari. Dia memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur- tiduran di keteduhan rendang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat meyayangi pohon epal itu. Demikian juga pohon epal itu sangat menyayangi anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah menjadi dewasa dan tidak lagi bermain-main dengan pohon epal itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon epal. Wajahnya kelihatan sedih. "Mari ke sini bermain-main lagi denganku," panggil pohon epal itu. "Aku bukan lagi anak kecil yang bermain-main dengan pohon ."jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya wang untuk membelinya." Pohon epal itu menyahut,"Aduh, maaf aku pun tak punya wang... tetapi kau boleh mengambil semua buah epalku dan menjualnya. Kau boleh mendapatkan wang untuk membeli mainan kegemaranmu. " Anak lelaki itu sangat gembira. Dia pun terus memetik semua buah epal yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon epal itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon epal sangat gembira melihatnya datang. "Mari bermain-main denganku lagi." kata pohon epal. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Aduh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membina rumahmu." kata pohon epal. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon epal itu dan pergi dengan gembira. Pohon epal itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu gembira, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon epal itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon epal merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Mari bermain-main lagi denganku." kata pohon epal. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berhibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk berlayar?" "Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mahu dan pergilah berlayar serta bersenang-senanglah . Kemudian,anak lelaki itu memotong batang pohon epal itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon epal itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon epal itu. "Aku sudah tak memiliki buah epal lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah epalmu." Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata pohon epal. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang boleh aku berikan padamu. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya memerlukan tempat untuk beristirahat. Aku sangat penat setelah sekian lama meninggalkanmu. " "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari…. marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon epal itu sangat gembira dan tersenyum sambil menitiskan air matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon epal itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ibu dan ayah kita. Bila kita dewasa, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang boleh mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Dan, yang paling penting: cintailah orang tua kita. Beritahu pada orang tua kita, betapa kita mencintai mereka; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita. Semoga bermanfaat

No comments: